Masukan untuk PANDI, Renungan untuk kita semua

Discussion in 'ccTLDs' started by Sany, May 22, 2015.

  1. Sany

    Sany Baby Domainer

    Joined:
    Mar 13, 2015
    Messages:
    47
    Likes Received:
    0
    salam kenal buat semua.
    ini thread pertama saya. bisa dikatakan saya adalah pemula/amatir/nubie dalam menggeluti bidang ini, saya masih banyak memerlukan pencerahan dari para master2 yang berada disini. namun kali ini bukan itu yang ingin saya sampaikan disini.

    langsung saja, diantara beberapa ekstensi domain country level yang ada saat ini (co.id, .or.id, web.id. dsb) yang menjadi perhatian saya adalah .id, mengingat anything.id dapat dikatakan sebagai ekstensi domain baru, yang sudah tentu menjadi buruan para pebisnis domain ataupun perusahaan guna kepentingan bisnisnya.

    sebagaimana yang kita ketahui, sebelum domain anything.id dilepas ke publik untuk digunakan oleh individu maupun perusahaan, pandi membagi periode pendaftaran tersebut kedalama beberapa periode dimana salah satunya periode sunrise.

    periode sunrise yang diterapkan oleh PANDI salah satunya bertujuan untuk memberikan prioritas dan kesempatan kepada pemilik merek dagang untuk mendaftarkan merek dagangnya guna menghindari sengketa dikemudian hari akibat "diserobot/didahului" oleh pihak ketiga

    langkah pandi tersebut diatas guna melindungi hak pemegang merek dapat saya katakan baik, walaupun secara prakteknya tidaklah mudah dan murah untuk mengikuti periode tersebut.

    namun apakah langkah pandi dengan memprioritaskan perlindungan dari aspek bisnis, dalam hal ini merek dagang saja sudah cukup? saya rasa tidak, jangan lupa, ada aspek lain yang lebih berharga dan itu sudah kewajiban saya, pandi, anda dan kita semua untuk menjaganya

    apa itu?
    yang saya maksud adalah
    PERLINDUNGAN TERHADAP BAHASA INDONESIA ATAU NAMA WILAYAH INDONESIA ATAU BUDAYA INDONESIA ATAU SIMBOL INDONESIA TERHADAP KEPEMILIKAN PIHAK ASING GUNA PERUNTUKKAN DOMAIN.ID


    kenapa saya lebih menitikberatkan perlindungan bahasa/wilayah/budaya/simbol indonesia, bukan kepada ektensi .id nya? bagi saya membatasi penggunaan .id hanya diperuntukkan hanya untuk warga/perusahaan indonesia adalah langkah mundur, ada baiknya domain ekstensi .id menjadi global sepanjang pendaftar domain dapat memenuhi syarat dan ketentuan yang diterapkan untuk domain ekstensi .id , lagipula, pembatasan hal tersebut masih terdapat celah yang dapat diakali oleh pihak asing, salah satunya adalah dengan membuka perwakilan di indonesia atau melalui perantaraan pinjam alamat agar dapat memiliki domain tersebut.

    tidaklah masalah menurut saya apabila orang asing ingin menggunakan ekstensi domain .id, dengan menggunakan bahasa/wilayah/simbol mereka atau negara lain sepanjang tidak menggunakan kata/kalimat bahasa indonesia atau menggunakan nama wilayah/budaya/simbol indonesia. mereka mungkin hanya ingin menggunakan ekstensi domain .id karena sudah tidak tersedianya ekstensi .com, .net, .org untuk nama domain mereka, dan mereka melihat .id masih banyak tersedia

    namun yang mengusik rasa nasionalisme saya adalah pada saat pihak asing menggunakan bahasa indonesia/wilayah/budaya/simbol indonesia dengan ekstensi .id, contoh : batik*id, atau tempe*id, sebenarnya kalau mau jujur tujuan mereka tersebut untuk apa? dapat diduga tujuan mereka adalah untuk dijual kembali dengan harga tinggi guna meraup keuntungan besar, baik itu dijual kepada pihak luar ataupun orang/perusahaan indonesia. dan itu bukan sekedar dugaan belaka, bahkan saya secara tidak sengaja menemukan domain.id dengan bahasa indonesia di suatu web yang menyediakan parkir domain, dimana saya cek who isnya ternyata pemiliknya adalah warga negara US. dan dugaan saya mengerucut kearah bahwa bisnis domain tidak jauh larinya antara mendevelop atau menjual kembali domain tersebut.

    jika hal itu terjadi itu, itu sama saja MENGULANG dengan apa yang terjadi selama ini terhadap kekayaan indonesia, seperti emas dan minyak, dimana kekayaan tersebut diambil dari tanah bumi indonesia, dan dijual kepada pihak luar, bahkan kepada indonesia, dengan harga tinggi pula.


    ingat, bahwa bahasa indonesia, wilayah indonesia, budaya indonesia, adalah harta kekayaan kita, hak kita untuk menikmatinya, jika hal ini tidak dihentikan, bukan tidak mungkin hampir seluruh domain berbahasa indonesia sudah didaftarkan dibawah kepemilikan pihak asing,

    bahasa indonesia bukanlah bahasa inggris, dunia tidak akan mempermasalahkan anda memiliki domain dengan bahasa inggris, sepanjang tidak bertentangan dengan hal-hal yang menyangkut merek dagang atau nama personal (seperti nama seleb).

    bahasa indonesia adalah milik segenap warga indonesia, sebagaimana tanah, udara, air dan wilayah indonesia, itulah mengapa UU No.5 Tahun 1960 tentang pokok pokok agraria yang melarang tanah, udara dan wilayah indonesia dibawah kepemilikan/penguasaan oleh pihak asing terkecuali untuk hak guna usaha (HGU) dan hak2 lain dibawah hak kepemilikan tertinggi yang hanya dapat dimiliki oleh orang indonesia.
    bukankah domain sendiri adalah property, layaknya tanah atau rumah?


    jadi kesimpulan dan saran saya yang kiranya dapat menjadi masukan untuk pandi :
    1. membatasi pihak asing mendaftarkan domain .id dengan menggunakan kata/kalimat bahasa indonesia atau wilayah indonesia, atau budaya indonesia atau bahasa daerah indonesia atau nama/kalimat yang mengandung simbol negara indonesia dan memprioritaskan kata/kalimat/wilayah/budaya tersebut diatas kepada warga indonesia yang lebih berhak menggunakannya.
    2. apabila pihak asing sudah "terlanjur" memiliki domain sebagaimana point 1 diatas, sebaiknya mereka hanya cukup diberikan 1 tahun saja, atau jika tidak maka otomatis kembali kepada pihak indonesia dan warga negara indonesia diberikan prioritas untuk memilikinya.


    tulisan ini adalah bentuk kekuatiran saya dan rasa nasionalisme saya semata-mata agar bahasa/wilayah/budaya/simbol indonesia tidak jatuh dibawah penguasaan pihak asing guna peruntukkan domain, jangan sampai mengulang kesalahan seperti kasus tambang emas atau minyak sebagaimana yang saya utarakan diatas terjadi didalam bisnis domain ini, atau jangan sampai seperti kasus situs peninggalan budaya indonesia yang saat ini berada di museum den haag, dimana tidak mudah untuk mengembalikannya. hal itu karena perlu kita sadari bahwa kurang menjaga apa yang telah menjadi kekayaan bangsa ini, yang justru dimanfaatkan oleh pihak asing.

    kiranya tulisan ini dapat memberikan masukan untuk pandi serta menjadi renungan untuk anda dan begitupun saya dalam menekuni bisnis domain ini.

    salam
     
    Last edited: May 24, 2015
  2. Pertanyaan

    Pertanyaan Real Domainer

    Joined:
    Dec 12, 2008
    Messages:
    535
    Likes Received:
    11
    Occupation:
    Dreamer
    Location:
    ?
    batik*id --> banned
    tempe*id --> avail, silahkan diregister
    tenun*id --> avail, silahkan diregister
    Kebaya*id --> Aristianto

    Intinya, asing masuk juga karena kita gak register/tidak mau register dengan biaya tinggi.
    Siapa yang salah ??
     
  3. Sany

    Sany Baby Domainer

    Joined:
    Mar 13, 2015
    Messages:
    47
    Likes Received:
    0

    si agan sesuai dengan namanya, pertanyaan, ane malah ditanya balik dah...hehe
    thanks udah jadi merawanin thread pertama ane gan...
    setiap orang punya pandangan dari sisi yang berbeda, namun kalo agan nanya siapa yang salah dan yang benar ga mudah dan ga akan menemukan solusi gan:), mgkn bagi sebagian orang domain anything.id dirasa mahal, di lain pihak, PANDI selaku pengelola bisnis domain ini menggangap domain tersebut adalah domain premium, thread ini sebagai masukan dan renungan kita bersama sebagaimana yang menjadi judul dan akhir alinea thread ini, bahwa selain aspek bisnis, ada aspek lain yang perlu dilindungi dan ini kiranya yang dapat menjadi perhatian pandi selaku pengelola pada khususnya.

    ane pun sepakat bahwa harga .id itu tergolong mahal untuk ukuran domain, tp harga mahal atau murah relatif bagi setiap orang. mkgn bagi agan begitupun ane, harga domain tersebut mahal, tapi belum tentu bagi pihak asing, agan atau ane mgkn hanya bisa membeli domain.id satu atau 2 biji tapi pihak asing dapat memborong domain tersebut, inilah yg ane sebut liberalisasi didalam dunia domain, tidak hanya siapa yang duluan, dia yg dapat, tapi siapa yang kuat dana, dia bisa memborong domain berbahasa/daerah/budaya indonesia dengan ekstensi .id, padahal orang asing tersebut boro-boro udah menetap di indonesia bahkan ke indonesia saja mgkn belum..hehe

    yang menjadi perhatian ane, apa yang menjadi dasar tujuan pihak asing meregister domain dengan menggunakan bahasa/daerah/budaya atau bahkan simbol-simbol indonesia? apakah untuk didevelop untuk kepentingan bisnisnya? ataukah untuk dikuasai dan dimonopoli guna dijual dengan harga tinggi?

    kira-kiranya begitulah gan...hehe

    salam kenal gan
     

Share This Page